You must have JavaScript enabled in order to use this theme. Please enable JavaScript and then reload this page in order to continue.
Logo Desa Tetemotaha
Logo Desa Tetemotaha
Tetemotaha

Kec. Wonggeduku, Kab. Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara

Selamat Datang di Sistem Informasi Desa Tetemotaha Kec.Wonggeduku Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara -- selengkapnya...

BIOSMART Hadir di Desa Tetemotaha: Mengolah Limbah Cair Sagu Menjadi Produk Bernilai Ekonomi untuk Mendukung Ketahanan Pangan

Dedi Sutrisno 18 Oktober 2026 Dibaca 25 Kali
BIOSMART Hadir di Desa Tetemotaha: Mengolah Limbah Cair Sagu Menjadi Produk Bernilai Ekonomi untuk Mendukung Ketahanan Pangan

Tetemotaha, 18 Oktober 2026 – Institut Sains Teknologi dan Kesehatan (ISTEK) ‘Aisyiyah Kendari berkolaborasi dengan Universitas Halu Oleo (UHO) melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan teknologi tepat guna melalui Program Kosabangsa Tahun 2026 bertajuk “BIOSMART (Bioindustri Sagu untuk Masyarakat Tangguh): Teknologi Edible Coating Berbasis Nata de Sago untuk Mendukung Ekonomi Sirkular dan Ketahanan Pangan Berbasis Potensi Lokal.” Kegiatan berlangsung selama dua hari, pada 17–18 Oktober 2026, di Desa Tetemotaha, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Program BIOSMART merupakan bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan inovasi berbasis potensi lokal, khususnya melalui pemanfaatan limbah cair hasil pengolahan sagu. Limbah tersebut diolah melalui proses fermentasi menjadi Nata de Sago, yaitu produk yang memiliki karakteristik menyerupai Nata de Coco. Selain berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan yang dapat dikonsumsi setelah melalui pengolahan dan pemenuhan persyaratan keamanan pangan, Nata de Sago juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan edible coating, yaitu lapisan pelindung pangan yang diaplikasikan pada produk hortikultura untuk membantu mempertahankan mutu dan memperpanjang umur simpannya.

Melalui pendekatan ini, BIOSMART diharapkan dapat menciptakan dua peluang pemanfaatan yang saling mendukung. Kelompok pengolah sagu dapat mengembangkan Nata de Sago sebagai produk bernilai tambah, sedangkan kelompok tani hortikultura dapat memanfaatkannya sebagai bahan baku teknologi penanganan pascapanen. Inovasi tersebut sekaligus menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular, yakni mengolah hasil samping suatu kegiatan produksi menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi kegiatan ekonomi lainnya.

Hari Pertama: Sosialisasi Program, Ekonomi Sirkular, dan Pembuatan Starter Nata de Sago
Kegiatan hari pertama, Sabtu (17/10/2026), diawali dengan sosialisasi Program Kosabangsa BIOSMART oleh Ketua Tim Pelaksana, Venia Oktafiani, M.Sc., yang memaparkan tujuan dan manfaat program, alur tahapan pelaksanaan, pembagian peran kelompok mitra, serta target yang ingin dicapai.

Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa BIOSMART tidak hanya berfokus pada pengenalan teknologi, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan keterampilan, kemandirian, dan peluang ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Program ini melibatkan kelompok pengolah sagu dan kelompok tani hortikultura sebagai mitra utama yang diharapkan dapat saling mendukung dalam pengembangan produk berbasis Nata de Sago.

Sesi berikutnya dilanjutkan dengan pemaparan materi ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah cair sagu oleh Prof. Arfa Yanti, M.Si., selaku Ketua Tim Pendamping dari Universitas Halu Oleo. Materi tersebut memberikan pemahaman mengenai potensi limbah cair sagu yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Nata de Sago diperkenalkan sebagai salah satu bentuk inovasi yang berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan olahan menyerupai Nata de Coco maupun bahan baku edible coating. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat melihat peluang pengembangan usaha baru dari aktivitas pengolahan sagu yang telah menjadi bagian dari potensi ekonomi desa.

Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan praktik pembuatan starter Nata de Sago. Peserta mendapatkan pendampingan mengenai tahapan persiapan produksi, mulai dari sterilisasi alat, penyiapan bahan dan media fermentasi, hingga pembuatan starter yang akan digunakan dalam proses produksi Nata de Sago.

Melalui pelatihan ini, kelompok pengolah sagu memperoleh pengetahuan dan keterampilan awal untuk mengembangkan pemanfaatan limbah cair sagu menjadi produk yang lebih bernilai.

Hari Kedua: Pelatihan Edible Coating dan Strategi Pemasaran Produk
Pada Minggu (18/10/2026), rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan dan aplikasi edible coating berbasis Nata de Sago. Peserta mempraktikkan tahapan pembuatan larutan edible coating serta penerapannya secara langsung pada tomat hasil pertanian masyarakat Desa Tetemotaha.

Teknologi edible coating diperkenalkan sebagai salah satu alternatif penanganan pascapanen untuk membantu mempertahankan kualitas produk hortikultura selama penyimpanan. Melalui penerapan teknologi ini, diharapkan risiko kerusakan hasil panen dapat dikurangi sehingga produk pertanian memiliki peluang pemasaran yang lebih baik.

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan keterkaitan antara kedua kelompok mitra. Nata de Sago yang dikembangkan oleh kelompok pengolah sagu berpotensi menjadi bahan baku yang dimanfaatkan oleh kelompok tani hortikultura. Hubungan tersebut diharapkan dapat membentuk rantai nilai ekonomi lokal yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.

Selain penguatan keterampilan produksi, peserta juga memperoleh materi strategi pemasaran produk yang disampaikan oleh anggota Tim Pelaksana, Andika Mayansara, S.KM., M.Kes., dan Syaiful Bachri, M.Cs.

Materi pemasaran difokuskan pada pentingnya pengembangan nilai tambah produk, pengenalan strategi pemasaran, serta pemanfaatan teknologi dan media digital untuk memperluas jangkauan pasar. Pembekalan ini diharapkan dapat membantu kelompok mitra mempersiapkan pengembangan produk inovatif agar tidak hanya mampu diproduksi, tetapi juga memiliki peluang untuk dipasarkan secara berkelanjutan.

Komitmen Bersama untuk Keberlanjutan Program
Rangkaian kegiatan selama dua hari ditutup dengan komitmen bersama untuk mendukung keberlanjutan Program BIOSMART. Komitmen tersebut menjadi wujud kesepahaman bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya sosialisasi dan pelatihan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk menerapkan, mengembangkan, dan memanfaatkan teknologi yang telah diperkenalkan.

Melalui pendampingan lanjutan, kelompok pengolah sagu diharapkan dapat mengembangkan produksi Nata de Sago, baik sebagai bahan baku edible coating maupun sebagai produk pangan olahan setelah memenuhi persyaratan keamanan pangan. Sementara itu, kelompok tani hortikultura diharapkan mampu menerapkan teknologi edible coating dalam pengelolaan hasil panen serta mengembangkan strategi pemasaran yang lebih baik.

Program BIOSMART juga diharapkan dapat memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat dalam mendorong pengembangan inovasi berbasis potensi lokal.

Melalui BIOSMART, limbah cair sagu yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal diharapkan dapat menjadi sumber peluang ekonomi baru, mendukung pengurangan kehilangan hasil pertanian, serta mendorong terwujudnya masyarakat Desa Tetemotaha yang lebih mandiri, tangguh, dan sejahtera.

Dengan semangat “Dari Limbah Menjadi Berkah, dari Potensi Lokal Menuju Desa Tangguh,” BIOSMART diharapkan menjadi langkah awal pengembangan bioindustri sagu dan ekonomi sirkular yang berkelanjutan di Desa Tetemotaha.

Tetemotaha, 18 Oktober 2026 – Institut Sains Teknologi dan Kesehatan (ISTEK) ‘Aisyiyah Kendari berkolaborasi dengan Universitas Halu Oleo (UHO) melaksanakan kegiatan sosialisasi dan pelatihan teknologi tepat guna melalui Program Kosabangsa Tahun 2026 bertajuk “BIOSMART (Bioindustri Sagu untuk Masyarakat Tangguh): Teknologi Edible Coating Berbasis Nata de Sago untuk Mendukung Ekonomi Sirkular dan Ketahanan Pangan Berbasis Potensi Lokal.” Kegiatan berlangsung selama dua hari, pada 17–18 Oktober 2026, di Desa Tetemotaha, Kecamatan Wonggeduku, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Program BIOSMART merupakan bentuk kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dalam mengembangkan inovasi berbasis potensi lokal, khususnya melalui pemanfaatan limbah cair hasil pengolahan sagu. Limbah tersebut diolah melalui proses fermentasi menjadi Nata de Sago, yaitu produk yang memiliki karakteristik menyerupai Nata de Coco. Selain berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan yang dapat dikonsumsi setelah melalui pengolahan dan pemenuhan persyaratan keamanan pangan, Nata de Sago juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan edible coating, yaitu lapisan pelindung pangan yang diaplikasikan pada produk hortikultura untuk membantu mempertahankan mutu dan memperpanjang umur simpannya.

Melalui pendekatan ini, BIOSMART diharapkan dapat menciptakan dua peluang pemanfaatan yang saling mendukung. Kelompok pengolah sagu dapat mengembangkan Nata de Sago sebagai produk bernilai tambah, sedangkan kelompok tani hortikultura dapat memanfaatkannya sebagai bahan baku teknologi penanganan pascapanen. Inovasi tersebut sekaligus menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular, yakni mengolah hasil samping suatu kegiatan produksi menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi kegiatan ekonomi lainnya.

Hari Pertama: Sosialisasi Program, Ekonomi Sirkular, dan Pembuatan Starter Nata de Sago
Kegiatan hari pertama, Sabtu (17/10/2026), diawali dengan sosialisasi Program Kosabangsa BIOSMART oleh Ketua Tim Pelaksana, Venia Oktafiani, M.Sc., yang memaparkan tujuan dan manfaat program, alur tahapan pelaksanaan, pembagian peran kelompok mitra, serta target yang ingin dicapai.

Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa BIOSMART tidak hanya berfokus pada pengenalan teknologi, tetapi juga diarahkan untuk meningkatkan keterampilan, kemandirian, dan peluang ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya lokal. Program ini melibatkan kelompok pengolah sagu dan kelompok tani hortikultura sebagai mitra utama yang diharapkan dapat saling mendukung dalam pengembangan produk berbasis Nata de Sago.

Sesi berikutnya dilanjutkan dengan pemaparan materi ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah cair sagu oleh Prof. Arfa Yanti, M.Si., selaku Ketua Tim Pendamping dari Universitas Halu Oleo. Materi tersebut memberikan pemahaman mengenai potensi limbah cair sagu yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

Nata de Sago diperkenalkan sebagai salah satu bentuk inovasi yang berpotensi dikembangkan menjadi produk pangan olahan menyerupai Nata de Coco maupun bahan baku edible coating. Dengan demikian, masyarakat diharapkan dapat melihat peluang pengembangan usaha baru dari aktivitas pengolahan sagu yang telah menjadi bagian dari potensi ekonomi desa.

Setelah sesi pemaparan materi, kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan praktik pembuatan starter Nata de Sago. Peserta mendapatkan pendampingan mengenai tahapan persiapan produksi, mulai dari sterilisasi alat, penyiapan bahan dan media fermentasi, hingga pembuatan starter yang akan digunakan dalam proses produksi Nata de Sago.

Melalui pelatihan ini, kelompok pengolah sagu memperoleh pengetahuan dan keterampilan awal untuk mengembangkan pemanfaatan limbah cair sagu menjadi produk yang lebih bernilai.

Hari Kedua: Pelatihan Edible Coating dan Strategi Pemasaran Produk
Pada Minggu (18/10/2026), rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan pembuatan dan aplikasi edible coating berbasis Nata de Sago. Peserta mempraktikkan tahapan pembuatan larutan edible coating serta penerapannya secara langsung pada tomat hasil pertanian masyarakat Desa Tetemotaha.

Teknologi edible coating diperkenalkan sebagai salah satu alternatif penanganan pascapanen untuk membantu mempertahankan kualitas produk hortikultura selama penyimpanan. Melalui penerapan teknologi ini, diharapkan risiko kerusakan hasil panen dapat dikurangi sehingga produk pertanian memiliki peluang pemasaran yang lebih baik.

Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan keterkaitan antara kedua kelompok mitra. Nata de Sago yang dikembangkan oleh kelompok pengolah sagu berpotensi menjadi bahan baku yang dimanfaatkan oleh kelompok tani hortikultura. Hubungan tersebut diharapkan dapat membentuk rantai nilai ekonomi lokal yang saling menguntungkan dan berkelanjutan.

Selain penguatan keterampilan produksi, peserta juga memperoleh materi strategi pemasaran produk yang disampaikan oleh anggota Tim Pelaksana, Andika Mayansara, S.KM., M.Kes., dan Syaiful Bachri, M.Cs.

Materi pemasaran difokuskan pada pentingnya pengembangan nilai tambah produk, pengenalan strategi pemasaran, serta pemanfaatan teknologi dan media digital untuk memperluas jangkauan pasar. Pembekalan ini diharapkan dapat membantu kelompok mitra mempersiapkan pengembangan produk inovatif agar tidak hanya mampu diproduksi, tetapi juga memiliki peluang untuk dipasarkan secara berkelanjutan.

Komitmen Bersama untuk Keberlanjutan Program
Rangkaian kegiatan selama dua hari ditutup dengan komitmen bersama untuk mendukung keberlanjutan Program BIOSMART. Komitmen tersebut menjadi wujud kesepahaman bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari terlaksananya sosialisasi dan pelatihan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat untuk menerapkan, mengembangkan, dan memanfaatkan teknologi yang telah diperkenalkan.

Melalui pendampingan lanjutan, kelompok pengolah sagu diharapkan dapat mengembangkan produksi Nata de Sago, baik sebagai bahan baku edible coating maupun sebagai produk pangan olahan setelah memenuhi persyaratan keamanan pangan. Sementara itu, kelompok tani hortikultura diharapkan mampu menerapkan teknologi edible coating dalam pengelolaan hasil panen serta mengembangkan strategi pemasaran yang lebih baik.

Program BIOSMART juga diharapkan dapat memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat dalam mendorong pengembangan inovasi berbasis potensi lokal.

Melalui BIOSMART, limbah cair sagu yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara optimal diharapkan dapat menjadi sumber peluang ekonomi baru, mendukung pengurangan kehilangan hasil pertanian, serta mendorong terwujudnya masyarakat Desa Tetemotaha yang lebih mandiri, tangguh, dan sejahtera.

Dengan semangat “Dari Limbah Menjadi Berkah, dari Potensi Lokal Menuju Desa Tangguh,” BIOSMART diharapkan menjadi langkah awal pengembangan bioindustri sagu dan ekonomi sirkular yang berkelanjutan di Desa Tetemotaha.

Bagikan Artikel Ini
Beri Komentar
Komentar baru terbit setelah disetujui oleh admin
CAPTCHA Image

APBDes 2026 Pelaksanaan

Pendapatan
Rp 0,00 Rp 406.811.227,00
0%
Belanja
Rp 0,00 Rp 3.795.651.670,00
0%

APBDes 2026 Pendapatan

Dana Desa
Rp 0,00 Rp 2.646.060,00
0%
Alokasi Dana Desa
Rp 0,00 Rp 404.165.167,00
0%

APBDes 2026 Pembelanjaan

Bidang Penyelenggaran Pemerintahan Desa
Rp 0,00 Rp 3.795.651.670,00
0%